10 Isu Strategis Manajemen Kontemporer 2025: Menyongsong Masa Depan

Oleh: Priatna Agus Setiawan

Manajemen di Tengah Arus Perubahan Global

Memasuki tahun 2025, dunia manajemen dihadapkan pada intensitas perubahan yang jauh lebih besar dibanding satu dekade sebelumnya. Kombinasi disrupsi teknologi — terutama kecerdasan buatan (AI) dan automasi — ketidakpastian geopolitik, krisis iklim yang kian nyata, dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap transparansi dan keberlanjutan, memaksa organisasi meninggalkan pendekatan manajerial tradisional.

Dulu, fokus utama manajemen adalah strategi dan efisiensi operasional. Sekarang, ukuran keberhasilan organisasi meluas: adaptabilitas, keberlanjutan (sustainability), sentuhan kemanusiaan (human-centric), serta kemampuan mengintegrasikan teknologi mutakhir menjadi bagian esensial dari daya saing.

Pertanyaannya: apa saja isu paling krusial yang harus diperhatikan oleh profesional dan akademisi manajemen pada 2025? Tulisan ini merangkum sepuluh bidang yang tidak hanya relevan dalam praktik bisnis sehari-hari, tetapi juga memiliki daya tarik teoritis dan penelitian yang kuat.

1. Transformasi Digital & Kecerdasan Buatan (AI)

Saat ini, data bukan sekadar pelengkap — ia menjadi sumber daya strategis. Kecerdasan buatan tidak lagi hanya berfungsi sebagai chatbot atau sistem rekomendasi, melainkan telah merambah ke pengambilan keputusan strategis, optimasi rantai pasok, bahkan proses rekrutmen.

Menurut Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), sekitar 170 juta pekerjaan baru akan tercipta secara global pada tahun 2030, namun 92 juta lainnya akan hilang akibat automasi dan transformasi teknologi — sehingga netto terjadi pertambahan sekitar 78 juta pekerjaan. (World Economic Forum)

Tren yang sama juga menunjukkan bahwa 63% perusahaan menyebut kesenjangan keterampilan (skills gap) sebagai hambatan paling serius dalam transformasi bisnis mereka. (World Economic Forum) Keterampilan teknologi seperti AI, big data, dan cybersecurity diproyeksikan akan mengalami lonjakan permintaan, sementara keterampilan manusiawi seperti berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi tetap menjadi kebutuhan inti. (World Economic Forum)

2. Keterampilan Masa Depan & Pengelolaan Talenta

WEF memproyeksikan bahwa hampir 40% dari keterampilan yang ada saat ini akan berubah atau menjadi usang pada tahun 2030. (World Economic Forum) Sekitar 59 dari setiap 100 pekerja diprediksi perlu mengikuti program reskilling atau upskilling agar tetap relevan. (World Economic Forum)

Di Indonesia, masalah nyata adalah kesenjangan antara apa yang diajarkan di institusi pendidikan dengan kebutuhan industri — terutama dalam keterampilan digital, pemecahan masalah (problem solving), dan kemampuan bekerja dalam tim. Banyak perusahaan melaporkan bahwa lulusan perguruan tinggi masih belum siap menghadapi tuntutan kerja modern.

Oleh karena itu, organisasi perlu mengembangkan ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan, melibatkan mekanisme seperti pelatihan internal, program pergantian divisi (talent mobility), bootcamp, sertifikasi mikro, dan kemitraan antara industri dan universitas.

3. Kepemimpinan Adaptif dan Kepedulian Humanis

Kepemimpinan model lama — yang bersifat hierarkis dan mengendalikan (command & control) — semakin ditinggalkan. Dalam kondisi global yang tidak stabil — krisis kesehatan, gangguan rantai pasok, tekanan regulasi, perubahan pasar — kemampuan seorang pemimpin untuk beradaptasi menjadi sangat penting.

Pemimpin adaptif mampu cepat menyesuaikan strategi operasional dan taktis sesuai kondisi, serta menciptakan visibilitas perubahan bagi timnya. Di sisi lain, hal yang tak kalah penting adalah kepemimpinan yang humanis — yaitu pemimpin yang menunjukkan empati, mendengarkan suara bawahan, menghargai keberagaman, serta mempromosikan kesejahteraan psikologis karyawan.

Banyak organisasi juga mengalami tantangan dalam perencanaan suksesi (succession planning) — seringkali pengganti pemimpin belum dipersiapkan dengan baik, sehingga pergantian kepemimpinan menjadi momen kritis yang bisa melemahkan organisasi.

4. Budaya Organisasi di Era Hybrid Work

Setelah pandemi, model kerja hybrid — sebagian di kantor, sebagian remote — menjadi norma baru di berbagai perusahaan. Namun, model hybrid membawa tantangan budaya yang tidak ringan: bagaimana membangun identitas organisasi, menjaga komitmen, hubungan antar-tim dan antar-individu, serta memastikan produktivitas tetap tinggi.

Riset Gallup menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan karyawan (employee engagement) global menurun dari 23% pada 2023 menjadi 21% pada 2024. Penurunan ini berdampak signifikan pada produktivitas dan perekonomian global, dengan estimasi kerugian mencapai US$438 miliar. (PR Newswire)

Selain itu, fenomena seperti quiet quitting (karyawan melakukan tugas minimum saja), burnout, dan fatigue karena perpindahan lingkungan kerja terus muncul sebagai indikator bahwa budaya kerja yang sehat harus menjadi prioritas. Organisasi perlu mendesain pengalaman kerja (employee experience) yang tidak hanya tentang fasilitas, tetapi juga keamanan psikologis (psychological safety), komunikasi yang terbuka, dan interaksi yang otentik.

5. Keberlanjutan dan Tanggung Jawab Lingkungan & Sosial (ESG)

Keberlanjutan kini bukan hanya aspek tambahan — ia menjadi bagian dari nilai inti perusahaan. Investor global semakin mengutamakan aspek ESG (Environmental, Social, Governance) dalam keputusan investasinya. Perusahaan-perusahaan besar seperti Unilever, Tesla, dan juga beberapa perusahaan Indonesia termasuk BRI dan Telkom, sudah mulai serius memasukkan indikator keberlanjutan dalam laporan dan strategi mereka.

Green transition (transisi ke teknologi ramah lingkungan) juga termasuk dalam tren transformasi yang paling berpengaruh menjelang 2030 menurut laporan WEF. (World Economic Forum) Keterampilan terkait pengelolaan lingkungan dan energi terbarukan diproyeksikan sebagai beberapa pekerjaan yang paling cepat berkembang. (World Economic Forum)

Manajemen SDM memiliki peran kunci dalam membangun budaya keberlanjutan — melibatkan karyawan dalam prakarsa lingkungan, volunteer sosial, dan inovasi ramah lingkungan — bukan hanya dalam laporan tahunan, tetapi sebagai bagian dari operasi sehari-hari.

6. Etika, Integritas, dan Tata Kelola (Governance)

Kasus-kasus skandal keuangan, penipuan korporasi, dan kebocoran data menunjukkan bahwa tanpa etika dan integritas, organisasi tidak hanya kehilangan reputasi tetapi juga kelangsungan bisnisnya.

Masyarakat dan regulator semakin menuntut transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang kuat. Sistem whistleblowing, audit independen, mekanisme pelaporan risiko, dan kepemimpinan yang memberikan contoh (ethical leadership) menjadi semakin penting.

Pemimpin etis bukan sekadar mengikuti aturan yang ada, tetapi juga menjaga keadilan, kepercayaan, dan budaya organisasi yang mendelegasikan kepercayaan kepada bawahan — bukan hanya kontrol. Tantangan manajemen adalah membuat etika menjadi bagian organik dari budaya, bukan dipandang sebagai beban kepatuhan administratif.

7. Gig Economy dan Fleksibilitas Kerja

Ekonomi digital telah mengubah cara banyak orang bekerja. Pekerja lepas (freelancer), pekerja platform, dan digital nomads menjadi bagian penting dari ekosistem tenaga kerja global.

Menurut laporan Bank Dunia, jumlah pekerja daring dalam gig economy diperkirakan mencapai sekitar 435 juta orang pada tahun 2023, dan permintaan pekerjaan jenis ini meningkat lebih dari 41% sejak 2016 hingga kuartal pertama 2023. (AP News)

Namun, di balik fleksibilitas dan potensi pendapatan tambahan, terdapat masalah: keamanan kerja sangat lemah, manfaat sosial terbatas, dan perlindungan hukum yang tidak memadai. Untuk perusahaan, tantangannya adalah bagaimana mengelola kinerja, menjaga loyalitas, dan menyusun sistem kerja yang adil untuk pekerja non-konvensional.

Pendekatan yang muncul adalah manajemen berbasis hasil (outcome-based management) dan kontrak kerja fleksibel yang tetap memperhatikan aspek kesejahteraan, keadilan, dan kepastian kerja.

8. Geopolitik, Krisis, dan Resiliensi Organisasi

Krisis pandemi, konflik antara negara, gangguan rantai pasok global, dan perubahan iklim menjadi pengingat bahwa organisasi besar maupun kecil rentan terhadap guncangan eksternal.

Resiliensi organisasi — kemampuan untuk merespons, beradaptasi, dan pulih dari gangguan — menjadi aspek utama dalam menyusun strategi jangka panjang. Praktik seperti diversifikasi pemasok, pembangunan cadangan strategis, serta skenario planning (rencana alternatif) tidak lagi opsional.

Contoh nyata: perusahaan-perusahaan multinasional yang mengandalkan satu negara sebagai sumber bahan baku mengalami gangguan panjang ketika terjadi lockdown atau konflik politik. Di Indonesia, sejumlah UMKM memanfaatkan peningkatan lokal sourcing untuk mengurangi ketergantungan impor akibat fluktuasi mata uang atau hambatan logistik.

9. Inovasi, Kreativitas, dan Ekonomi Digital

Inovasi bukan lagi tentang produk baru semata, melainkan model bisnis baru, proses baru, dan pengalaman baru untuk pelanggan dan pemangku kepentingan.

Perusahaan yang gagal membaca tren atau merespon perubahan konsumen secara inovatif berisiko tertinggal—seperti yang pernah dialami oleh Nokia dan Kodak. Di sisi lain, perusahaan seperti Netflix bertransformasi dari penyewaan DVD menjadi platform streaming, lalu menjadi pencipta konten sendiri.

Pendekatan seperti design thinking, intrapreneurship (startup internal), dan ekosistem open innovation menjadi semakin populer. Karyawan di seluruh tingkatan organisasi perlu diberdayakan untuk berinovasi, bukan hanya tim R&D.

10. Kolaborasi Antara Akademisi dan Praktisi

Kesenjangan antara teori yang dikembangkan di akademia dan praktik yang dijalankan di perusahaan masih menjadi salah satu penghambat utama untuk kemajuan manajemen modern.

Tren global bergerak ke evidence-based management, yaitu keputusan manajerial yang didukung data empiris dan penelitian. Akademisi perlu menjamin bahwa penelitian mereka relevan terhadap masalah nyata, sementara praktisi perlu lebih terbuka terhadap hasil riset sebagai basis kebijakan dan praktik.

Kolaborasi bisa diwujudkan melalui studi kasus, kemitraan riset-industri, pertukaran pengetahuan, dan pilot projects yang diuji di lapangan. Jika dilakukan baik, Indonesia dan negara lain akan memperoleh kemampuan manajerial yang lebih kuat dan aplikatif di arena global.

Menyongsong Manajemen Masa Depan

Kesepuluh isu tersebut memperlihatkan bahwa manajemen kontemporer berdiri di persimpangan strategis: di satu sisi teknologi dan perubahan lingkungan menuntut percepatan adaptasi, sementara di sisi lain nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan keberlanjutan menjadi semakin vital.

Para profesional harus siap untuk berubah, berpikiran terbuka, dan menjaga integritas. Akademisi dituntut agar riset tidak hanya teoritis tetapi juga aplikatif. Kita tidak bisa lagi bicara manajemen hanya tentang teori atau efisiensi semata. Manajemen masa depan adalah adaptif, humanis, berkelanjutan, dan kolaboratif.

Referensi

  • World Economic Forum. Future of Jobs Report 2025. (World Economic Forum)
  • Gallup. State of the Global Workplace Report 2024. (PR Newswire)
  • World Bank. Report on gig economy and online work. (AP News)
  • Studi “Skills or Degree? The Rise of Skill-Based Hiring for AI and Green Jobs” oleh Bone, Ehlinger, dan Stephany (2023-2024). (arXiv)

Comments

Leave a Reply

Discover more from PAS & Rekan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading